Startup Unicorn Indonesia IPO, Strategi Investor untuk Exit ?

Startup Unicorn Indonesia IPO, Strategi Investor untuk Exit ?

Rencana beberapa startup unikorn Indonesia buat melaksanakan penawaran saham universal perdana( Initial Public Offering/ IPO) di bursa saham dinilai tidak terlepas dari strategi para investor buat keluar ataupun exit dari industri teknologi raksasa tersebut.

Pimpinan Bidang Industri Aplikasi Nasional Warga Telematika Indonesia( Mastel) Meter. Tesar Sandikapura berkomentar tidak hanya buat menghimpun dana fresh untuk unikorn, IPO pula ialah bagian dari strategi para investor buat keluar dari industri yang melaksanakan melantai di bursa. Buat keluar, biasanya investor bisa menunggu sampai suatu industri menggapai sasaran tertentu ataupun lewat skema IPO.

Ia menuturkan seandainya IPO terealiasasi, dana publik yang sukses dikumpulkan tidak seluruhnya masuk dalam duit kas industri teknologi. Sebagian hendak dialirkan kepada investor yang memutuskan buat keluar dari industri.

Ia mencontohkan seandainya pada investasi dini duit yang digelontorkan investor senilai Rp1 triliun buat 1 persen saham yang dipunyai, sehabis 2- 3 tahun nilai investasi yang ditanamkan dapat bertambah sampai Rp2 triliun bersamaan dengan kenaikan valuasi industri rintisan tersebut. Salah satu metode buat memperoleh nilai keuntungan tersebut merupakan dengan melepas sahamnya dikala IPO.

Strategi lain yang digunakan investor buat keluar merupakan bekerja sama dengan sesama investor–baik perorangan maupun korporasi–rekanan. Misalnya, investor A menolong suatu industri teknologi buat tumbuh dari sesi dini sampai sesi berikutnya.

Sehabis menggapai sesi berikutnya, rekanan dari investor A hendak membeli saham kepunyaan investor di sesi dini, sehingga investasi yang dikeluarkan berbuah manis dikala investor memutuskan buat keluar.

Pembagian pendanaan terjalin sebab fokus investor berbeda- beda. Sebagian investor memilah menghalangi jumlah investasi dengan cuma menyuntikkan dana dengan nilai besar kepada sebagian industri rintisan yang sudah matang saja.

Kebalikannya, sebagian investor lain lebih tertarik menyuntikan dana di industri rintisan sesi dini dengan nilai kecil, dengan jumlah penerima pendanaan yang banyak. Sehabis itu, industri rintisan tersebut dibina sampai ke sesi lanjut.

Pada Jumat( 12/ 2), Bursa Dampak Indonesia( BEI) mengatakan terdapat 3 industri dari zona teknologi yang bakal IPO pada tahun ini.

” Apabila seluruh proses berjalan cocok rencana, 3 industri tersebut diperkirakan bisa tercatat di Bursa sangat kilat pada kuartal I/ 2021 ini,” ucap Direktur Evaluasi Industri BEI I Gede Nyoman Yetna.

3 calon emiten tersebut hendak menyusul 2 industri teknologi lain yang sudah lebih dahulu melantai di Bursa pada 2021 ialah PT DCI Indonesia Tbk.( DCII) yang formal tercatat pada 6 Januari 2021 serta PT Indointernet Tbk.( EDGE) pada 8 Februari 2021.

Tadinya, Tokopedia dan Traveloka dikabarkan telah berencana melantai di bursa Indonesia serta AS. Tokopedia apalagi telah menunjuk Morgan Stanley serta Citigroup Inc. selaku penasihat buat menolong rencana go public mereka.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
 

Recomendasi Bacaan

Sunny Bora

Sunny Bora

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *